Tuesday, September 27, 2005

LEMAH LEMBUT DAN MENAHAN AMARAH

Lemah lembut dan manahan amarah


Kelemahlembutan adalah akhlak mulia. Ia berada diantara dua akhlak yang rendah dan jelek, yaitu kemarahan dan kebodohan. Bila seorang hamba menghadapi masalah hidupnya dega kemarahan dan emosional, akan tertutuplah akal dan pikirannya yang akhirnya menimbulkan perkara-perkara yang tidak diridhoi Allah ta’ala dan rasul-Nya. Dan jika hamba tersebut menyelesaikan masalahnya dengan kebodohan dirinya, niscaya ia akan dihinakan manusia. Namun jika dihadapi dengan ilmu dan kelemahlembutan, ia akan mulia di sisi Allah ta’ala dan makhluk-makhluknya.
Orang yang memiliki akhlak lemah lembut, insya Allah akan dapat menyelesaikan problema hidupnya tanpa harus merugikan orang lain dan dirinya sendiri.

Melatih diri untuk dapat memiliki akhlak mulia ini dapat dimulai dengan menahan diri ketika marah dan mempertimbangkan baik buruknya suatu perkara sebelum bertindak. Karena setiap manusia tidk pernah terpisahkan dari problema hidup, jika ia tidak membekali dirinya dengan akhlak ini, niscaya ia gagal untuk menyelesaikan problemanya.

Demikian agungnya akhlak ini sehingga rasullah memuji sahabatnya Asyaj Abdul Qais dengan sabdanya :
“Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang dicintai Allah yakni sifat lemah lembut (sabar) dan ketenangan (tidak tergesa-gesa)”. (HR. Muslim)

Akhlak mulia ini terjadang diabaikan oleh manusia ketika amarah telah menguasai diri mereka, sehingga tindakannya pun berdampak negatif bagi dirinya ataupun orang lain.
Padahal rasulullah sudah mengingatkan dari sifat marah yang tidak pada tempatnya, sebagaimana beliau bersabda kepada seorang sahabat yang meminta nasehat :
“ Janganlah kamu marah.” Dan beliau mengulanginya berkali-kali dengan bersabda : “Janganlah kamu marah”. (HR. Bukhari). dari hadits ini diambil faedah bahwa marah adalah pintu kejelekan, yang penuh dengan kesalahan dan kejahatan, sehingga rasulullah mewasiatkan kepada sahabatnya itu agar tidak marah. Tidak berarti manusia dilarang marah secara mutlak. Namun marah yang dilarang adalah marah yang disebabkan oleh hawa nafsu yang memancing pelakunya bersikap melampaui batas dalam berbicara, mencela, mencerca, dan menyakiti saudaranya dengan kata-kata yang tidak terpuji, yang mana sikap ini menjauhkannya dati kelemahlembutan.

Didalam hadits yang shahih Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda : “ Bukanlah dikatakan seorang yang kuat itu dengan bergulat, akan tetapi orang yang kuat dalam menahan dirinya dari marah”. (Muttafaqqun’alahi).

Ulama telah menjelaskan berbagai cara menyembuhkan penyakit marah yang tercelah yang ada pada seorang hamba, yaitu :

1. Berdoa kepada Allah, yang membimbing dan menunjuki hamba-hambaNya ke jalan yang lurus dan menghilangkan sifat-sifat jelek dan hina dari diri manusia. Allah ta’alah berfirman : “ Berdoalah kalian kepadaku niscaya akan aku kabulkan.” (Ghafir: 60)

2. Terus-menerus berdzikir pada Allah seperti membaca Al-Quran, bertasbih, bertahlil, dan istigfar, karena Allah telah menjelaskan bahwa hati manusia akan tenang dan tenteram dengan mengingat Allah. Allah berfirman : “Ingatlah dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” ( Ar-Ra’d : 28)

3. Mengingat nash-nash yang menganjurkan untuk menahan marah dan balasan bagi orang-orang yang mampu manahan amarahnya sebagaimana sabda nabi shalallahu ‘alaihi wasallam : “ Barangsiapa yang menahan amarahnya sedangkan ia sanggup untuk melampiaskannya, (kelak di hari kiamat) Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluq-Nya hingga menyuruhnya memilih salah satu dari bidadari surga, dan menikahkannya dengan hamba tersebut sesuai dengan kemaunnya “ (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani, lihat shahihul jami’ No. 6398).

4. Merubah posisi ketika marah, seperti jika ia marah dalam keadaan berdiri maka hendaklah ia duduk, dan jikalau ia sedang duduk maka hendaklah ia berbaring, sebagaimana sabda rasulullah shalallahu alaihi wa sallam :
“ Apabila salah seorang diantara kalian marah sedangkan ia dalam posisi berdiri, maka hendaklah ia duduk. Kalau telah reda/hilang marahnya (maka cukup dengan duduk saja), dan jika belum hendaklah ia berbaring.” (Al-Misykat 5114).

5. Berlindung dari setan dan menghindar dari sebab-sebab yang akan membangkitkan kemarahannya.
Demikianlah jalan keluar untuk selamat dari marah yang tercela. Dan betapa indahnya perilaku seorang muslim jika dihiasi dengan kelemahlembutan dan kasih sayang, karena tidaklah kelemahlembutan berada pada suatu perkara melainkan akan membuatnya indah. Sebaliknya bila kebengisan dan kemarahan ada pada suatu urusan niscaya akan menjelekkannya. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda : “ Tidaklah kelemahlembutan itu berada pada sesuatu kecuali akan membuatnya indah, dan tidaklah kelembutan itu dicabut kecuali akan menjadikannya jelek.” (HR. Muslim).

CERDAS MENGHADAPI TANTANGAN

Kesuksesan seseorang tidak hanya dipengaruhi kualitas intelegensinya(IQ) tapi dipengaruhi pula oleh kecerdasannya dalam mengatasi setiap tantangan. Suatu hari Rasulullah SAW berkumpul dengan para sahabat. Saat itu beliau bercerita tentang tiga orang yang hendak pergi ke masjid.
Ketiganya datang agak terlambat dan harus merima kenyataan bahwa masjid telah penuh. Bagaimana reaksi ketiga orang tersebut? Orang yang pertama tanpa banyak basa-basi segera pulang, karena menganggap dirinya tidak kebagian tempat. Orang yang kedua segera masuk dan mendapatkan tempat duduk di barisan paling belakang. Sedang yang ketiga memaksakan diri untuk masuk dan terus maju, hingga ia berhasil mendapatkan tempat paling depan.

Lalu Rasul bersabda, "Yang pertama itu adalah orang yang putus asa,hingga ia tidak mendapatkan apa-apa. Yang kedua adalah tipe orang yangmalu-malu, hingga ia hanya mendapat sedikit. Dan yang ketiga adalah tipe orang yang penuh harapan, bersemangat, pantang menyerah, hingga ia mendapat apa yang ia inginkan."

Kisah yang diungkapkan oleh Rasulullah SAW ini terlihat biasa-biasa saja. Terlihat biasa karena kita sering melihat atau bahkan mengalaminya dalam keseharian. Padahal kisah ini mengandung makna yang dalam.Setidaknya ada dua hal penting yang ingin disampaikan Rasulullah SAW pada kita dari kisah di atas. Pertama adalah tantangan; dan kedua, sikap orang terhadap tantangan tersebut. Mari kita lihat. Penuhnya masjid adalah tantangan (masalah) bagi orang yang terlambat datang. Sikap terhadap tantangan ini bermacam-macam, ada yang menyerah; ada yang masuk untuk sekadar mendapatkan tempat duduk; dan ada pula yang masuk dan ngotot untuk mendapatkan shaf pertama. Orang ketiga ini boleh jadi seseorang yang sadar akan keutamaan shaf pertama. Dia layak disebut orang sukses; orang bersemangat, dan tidak gampang berputus asa saat dihadapkan pada kesulitan.

Tiga macam pendaki
Apa yang diungkapkan Rasulullah SAW ini ternyata mendapatkan pembenaran ilmiah. Adalah Paul G Stoltz, PhD yang "menemukan" teori ini. Dalam bukunya yang berjudul Adversity Quotient (AQ) (Grasindo, Jakarta: 2000),Paul Stoltz mengungkapkan bahwa kesuksesan seseorang tidak hanya dipengaruhi kualitas intelegensinya (IQ) atau kualitas emosinya (EQ),tapi dipengaruhi pula oleh kecerdasan atau kemampuannya dalam mengatasi setiap tantangan.

Bila Rasul menganalogikan dengan orang masuk masjid, maka Stoltz menganalogikannya dengan perjalanan mendaki gunung. Menurutnya ada tiga tipe pendaki. Pertama adalah quitters yaitu mereka berhenti di tengah jalan dalam proses pendakian. Mereka ini gampang putus asa dan menyerah di tengah jalan. Yang kedua adalah campers (pekemah) yaitu mereka yang tidak mencapai puncak, tetapi sudah puas dengan apa yang telah dicapai."Ngapain capek-capek" atau "segini juga udah cukup" adalah moto para campers. Orang-orang ini sekurang-kurangnya sudah merasakan tantangan,dan selangkah lebih maju dari para quitters. Sayangnya banyak potensi
diri yang tidak teraktualisasikan, dan yang jelas pendakian itusebenarnya belum selesai.

Ketiga adalah climbers (pendaki sejati), yaitu mereka yang selalu optimistik, selalu melihat harapan, dan selalu menetapkan sasaran-sasaran baru dalam kehidupan. Mereka mampu menikmati proses menuju keberhasilan, walau mereka tahu bahwa akan banyak rintangan dan
kesulitan yang menghadang. Namun, di balik kesulitan itu ia akan mendapatkan banyak kemudahan. "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan; sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,"demikian firman Allah dalam QS Alam Nasyrah (94) ayat 5-6.

Para climbers selalu berasumsi bahwa "sesuatu itu mungkin". Sehingga mereka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan walau sekecil apapun untuk maju. Semakin tinggi ia naik, maka semakin luas dan indah pula ia melihat pemandangan. Menurut Stoltz, semakin besar nilai AQ (adversity quotient) seseorang akan semakin cepat ia "pulih" dari keterpurukan,mampu mengatasi "kemalangan" yang dihadapinya, hingga akhirnya bias fight lagi dalam menggapai cita-cita. Tangguh dan tabah adalah karakter sekaligus sikap dasar tipe climbers.

Ada banyak contoh orang dengan kualifikasi ini. Yang sangat legendaries adalah kisah Siti Hajar tatkala ia berlari-lari antara Shafa dan Marwah untuk mencari air. Ari Ginanjar Agustian dalam bukunya ESQ Power (Arga Jakarta: 2003) mengungkapkan bahwa Siti Hajar adalah seorang climber sejati, yang tentunya memiliki adversity quotient (AQ) yang sangat tinggi.

Sebagai sebuah pelajaran, Allah SWT mengabadikan perjuangan dan ketabahannya dalam Alquran, "Sesungguhnya antara Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'I antara keduanya. Barangsiapa mengerjakan suatu kebaikan dengan kerelaan
hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui." (QS Al-Baqarah <2>: 158). Sa'i, berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah, adalah syiar yang melambang ketabahan, perjuangan, dan kekuatan mental.

Karakter kekasih Allah
Dalam kehidupan nyata, hanya para climbers-lah yang akan mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan sejati. Sebuah penelitian yang dilakukan Charles Handy-seorang pengamat ekonomi kenamaan asal Inggris-terhadap ratusan orang sukses di Inggris memperlihatkan bahwa mereka memiliki tiga karakter yang sama. Yaitu, pertama, mereka berdedikasi tinggi terhadap apa yang tengah dijalankannya. Dedikasi itu bisa berupa komitmen, kecintaan, atau ambisi untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik. Kedua, mereka memiliki determinasi. Kemauan untuk mencapai tujuan,bekerja keras, berkeyakinan, pantang menyerah dan kemauan untuk mencapai
tujuan yang diinginkannya. Dan ketiga, selalu berbeda dengan orang lain.Orang sukses memakai jalan, cara atau sistem bekerja yang berbeda dengan rang lain pada umumnya.

Dua dari tiga karakter orang sukses yang diungkapkan Handy dalam The New lchemist tersebut erat kaitannya dengan kemampuan seseorang dalam enghadapi tantangan. Karena itu, Islam memerintahkan kita untuk menjadi rang ber-AQ tinggi; menjadi para pemburu shaf pertama dalam shalat; dan menjadi para climber yang tak gampang putus asa. "Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir," demikian Allah SWT berfirman (QS Yusuf <12>: 87).

Lebih jauh lagi, Wahab bin Munabbih mengatakan bahwa sikap optimis dan pantang menyerah termasuk salah satu ciri kekasih Allah. Ia mengatakan,"Para kekasih Allah itu jika menempuh perjalanan yang sulit, mereka selalu optimis; sedangkan jika mereka melewati perjalanan yang mudah mereka malah khawatir". Wallahu a'lam bish-shawab. (Ems)

10 KUALITAS KEPRIBADIAN

1., Ketulusan, menempati, peringkat, pertama, sebagai, sifat, yang, paling, disukai, oleh, semua, orang., Ketulusan, membuat, orang, lain, merasa, aman, dan, dihargai, karena, yakin, tidak, akan, dibodohi, atau, dibohongi., Orang, yang, tulus, selalu, mengatakan, kebenaran, tidak, suka, mengada-ada, pura-pura, mencari-cari, alasan, atau, memutarbalikkan, fakta., Prinsipnya, Ya, diatas, Ya, dan, Tidak, diatas, Tidak, Tentu, akan, lebih, ideal, bila, ketulusan, yang, selembut, merpati, itu, diimbangi, dengan, kecerdikan, seekor, ular., Dengan, begitu, ketulusan, tidak, menjadi, keluguan, yang, bisa, merugikan, diri, sendiri.
2.Berbeda, dengan, rendah, diri, yang, merupakan, kelemahan, kerendahan, hati, justru, mengungkapkan, kekuatan., Hanya, orang, yang, kuat, jiwanya, yang, bisa, bersikap, rendah, hati., Ia, seperti, padi, yang, semakin, berisi, semakin, menunduk., Orang, yang, rendah, hati, bisa, mengakui, dan, menghargai, keunggulan, orang, lain., Ia, bisa, membuat, orang, yang, diatasnya, merasa, oke, dan, membuat, orang, yang, di, bawahnya, tidak, merasa, minder
3.Kesetiaan, sudah, menjadi, barang, langka, dan, sangat, tinggi, harganya., Orang, yang, setia, selalu, bisa, dipercaya, dan, diandalkan., Dia, selalu, menepati, janjinya, mempunyai, komitmen, yang, kuat, rela, berkorban, dan, tidak, suka, berkhianat
4.Orang, yang, bersikap, positif, selalu, berusaha, melihat, segala, sesuatu, dari, kacamata, positif, bahkan, dalam, situasi, yang, buruk, sekalipun., Dia, lebih, suka, membicarakan, kebaikan, daripada, keburukan, orang, lain, lebih, suka, bicara, mengenai, harapan, daripada, keputusasaan, lebih, suka, mencari, solusi, daripada, frustasi%2C, lebih, suka, memuji, daripada, mengecam, dsb
5. Karena, tidak, semua, orang, dikaruniai, temperamen, ceria, maka, keceriaan, tidak, harus, diartikan, ekspresi, wajah, dan, tubuh, tapi, sikap, hati., Orang, yang, ceria, adalah, orang, yang, bisa, menikmati, hidup, tidak, suka, mengeluh, dan, selalu, berusaha, meraih, kegembiraan., Dia, bisa, mentertawakan, situasi, orang, lain, juga, dirinya, sendiri., Dia, punya, potensi, untuk, menghibur, dan, mendorong, semangat, orang, lain.
6.Orang, yang, bertanggung, jawab, akan, melaksanakan, kewajibannya, dengan, sungguh-sungguh., Kalau, melakukan, kesalahan, dia, berani, mengakuinya., Ketika, mengalami, kegagalan, dia, tidak, akan, mencari, kambing, hitam, untuk, disalahkan., Bahkan, kalau, dia, merasa, kecewa, dan, sakit, hati, dia, tidak, akan, menyalahkan, siapapun., Dia, menyadari, bahwa, dirinya, sendirilah, yang bertanggung, jawab, atas, apapun, yang, dialami, dan, dirasakannya
7.Rasa, percaya, diri, memungkinkan, seseorang, menerima, dirinya, sebagaimana, adanya, menghargai, dirinya, dan, menghargai, orang, lain., Orang, yang, percaya, diri, mudah, menyesuaikan, diri, dengan, lingkungan, dan, situasi, yang, baru., Dia, tahu, apa, yang, harus, dilakukannya, dan, melakukannya, dengan, baik.,
8.Kebesaran, jiwa, dapat, dilihat, dari, kemampuan, seseorang, memaafkan, orang, lain., Orang, yang, berjiwa, besar, tidak, membiarkan, dirinya, dikuasai, oleh, rasa, benci, dan, permusuhan., Ketika, menghadapi, masa-masa, sukar, dia, tetap, tegar, tidak, membiarkan, dirinya, hanyut, dalam, kesedihan, dan, keputusasaan
9.Orang, yang Easy Going menganggap, hidup, ini, ringan., Dia, tidak, suka, membesar-besarkan, masalah, kecil., Bahkan, berusaha, mengecilkan, masalah-masalah, besar., Dia, tidak, suka, mengungkit, masa, lalu, dan, tidak, mau, khawatir, dengan, masa, depan., Dia, tidak, mau, pusing, dan, stress, dengan, masalah-masalah, yang, berada, diluar, kontrolnya
10. Empati, adalah, sifat, yang, sangat, mengagumkan., Orang, yang, berempati, bukan, saja, pendengar, yang, baik, tapi, juga, bisa, menempatkan, diri, pada, posisi, orang, lain., Ketika, terjadi, konflik, dia, selalu, mencari, jalan, keluar, terbaik, bagi, kedua, belah, pihak, tidak, suka, memaksakan, pendapat, dan, kehendaknya, sendiri., Dia, selalu, berusaha, memahami, dan, mengerti, orang, lain.