Tuesday, August 02, 2005

SIX POWER OF LOVE

6 (Six) POWER of LOVE**
(Jusuur Al Mahhabbah-6 Jembatan cinta seorang Muslim Sejati-DR Aid bin AbdulLLah AlQarni)*

"Hak Muslim atas Muslim yang lain ada enam. Beliau di tanya:"Apakah enam hal itu, Ya RasuluLLah?" Beliau bersabda : " Bila kamu bertemu dengannya ucapkanlah Salam kepadanya, jika dia mengundangmu maka penuhilah, bila meminta nasehat/ tausiah maka nasehatilah, bila bersin lalu membaca hamdaLLah maka do'akan dia, bila dia sakit maka jenguklah dia dan jika meninggal antarkan jenazahnya" (HR Bukhari dan Muslim)

Cinta adalah ungkapan jiwa. Cinta adalah kekuatan. Cinta adalah bukti. Cinta adalah memberi. Cinta adalah engkau rela menjadi abu atau tiada karenanya, seperti perkataan awan kepada hujan yang membuatnya tiada, kayu kepada api yang membuatnya menjadi abu atau lukisan pasir pada pantai yang mebuatnya hilang. Seorang petani, dia rela berpanas di bawah terik matahari agar tanaman yang di tanamnya bisa tumbuh dengan subur dan menghasilkan bulir-bulir padi atau sayuran. Seorang ibu rela bergadang semalaman untuk menunggu buah hatinya yang sedang terbaring sakit dan menangis. Semua karena cinta. Sebagaimana Allah SWT dengan sifat RahmanNya memberikan Kasih-Nya kepada semua makhluk-Nya di dunia baik ia beriman maupun kafir, dan juga sifat RahimNya kepada hamba-hambaNya yang bertaqwa kelak nanti di yaumil akhir. Syaih DR Sa'id Hawa membagi 3 tingkatan cinta : *AlMahabbatul Ula, AlMahabbatul Wustha dan Al Mahhabtul Adna*. Setiap tingkatan itu masih ada tahapan dan tingkatannya lagi.

Bahasan kita sekarang adalah pada tingkatan cinta yang kedua yaitu Al Mahhabatul wustha atau cinta menengah dan hubungan antara seorang muslim dengan muslim lainnya. RasuluLLah dalam hadist diatas telah memberikan jembatan yang indah untuk memperbaiki dan merekatkan tali cinta dan kasih sayang antara sesama muslim.

Dalam Alqur'an, Allah Rabbul Izzah sang pemilik cinta dan kemuliaanpun telah mengajarkan bahwa setiap mu'min adalah bersaudara. *'Innamal Mu'minuuna ikhwah....Sesungguhnya setiap mu'min itu adalah bersaudara" (QS Al Hujurat:10).*

Dalam hubungan persaudaraan ini tentulah kita membutuhkan jembatan-jembatan. Dan jembatan yang akan menopang dan mengantarkan bukti cinta ini telah di ajarkan RasuluLLah. Dan ini akan begitu bermakna dan bernilai apabila kita mampu untuk melakukannya. Jembatan-jembatan cinta inilah yang tidak hanya mampu untuk menghantarkan kita pada perasaan ukhuwwah dan rasa cinta pada sesama saudara muslim kita yang sejati, tidak hanya sebatas retorika tapi sekaligus juga menopang cinta dan hubungan ukhuwwah itu sendiri.

Dengan perantara *Ta'aruf (saling Mengenal), Tafahum (Saling mengerti), Ta'awun (Saling bekerjasama) dan ujungnya adalah Takaful (saling menanggung),* kemudian dia akan berkembang menjadi buliran-buliran tali persaudaraan dalam bingkai ukhuwah. Dari Salamus Shadr hingga Itsar. Sungguh indah islam mengajarkan tentang nilai-nilai persaudaraan dan kesatuan hati ini. Maka menjadilah kita muslim yang paling berbahagia dengan keutamaan-keutamaan ini."

*dan (Dialah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman)[622]. Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana."* (QS Al Anfal:63).

Penduduk Madinah yang terdiri dari suku Aus dan Khazraj selalu bermusuhan sebelum Nabi Muhammad s.a.w hijrah ke Medinah dan mereka masuk Islam, permusuhan itu hilang.

Sub Bagian satu.

Dan Jembatan-Jembatan Mahabbah dalam Ukhuwwah itu adalah.........

*Menebarkan Salam.*

Seorang muslim dimanapun dia berada, tak ada batasan territorial selama dia telah bersaksi maka Rabb-Nya adalah Allahu ahad, Rasulnya Muhammad SAW dan kiblatnya adalah Ka'bah yang mulia maka ucapan salamnya wajib kita menjawab begitu jua sebaliknya adalah kita sangat di anjurkan untuk mengucapkan kalimat-kalimah keselamatan ini padanya.

Salam adalah ungkapan tahiyyat/ penghormatan yang pertama kali di turunkan Allah kepada rasulNya dan merupakan penghormatan para ahli surga *" Tahiyyatuhum yauma yalqounahu salaamuun. Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mu'min) itu pada hari mereka menemui-Nya iasalah : Salam." *(Al Ahzab:44)

Salam adalah ungkapan cinta pada saudara kita, ungkapan indah yang di ajarkan Rasul junjungan yang mulia maka bagaimana mungkin masih ada di antara kita yang menginginkan salam ini harus di rubah dengan cara salam yang sempit. *Huyyita masa'aan (Selamat sore), huyyita shobahan (selamat pagi).....*jangan...sungguh jangan engkau ucapkan lagi kalimat ini. Ada salam yang sangat indah dan general setiap saat dan waktu, mendoakan keselamatan, mendapatkan Rahmat dan berkah dari Allah SWT yaitu*AssalamualaikumWarahmatuLLahi Wabarakatuh* niscaya engkau akan mendapatkan 30 pahala kebaikan. ((HR Abu Dawud dan Tirmidzi). Subhanallah.

*Menghadiri Undangan*

Di antara jembatan cinta yang di bentangkan dalam islam terhadap saudara muslim kita adalah menghadiri undangannya. Saudara kita mau mengundang kita karena ia menyanyngi kita dan masih menginginkan tali persaudaraan ini semakin erat. Ia bisa menjadi wajib bila undangan ini adalah walimatul 'ursy atau juga sunnah dan juga bisa jatuh kepada haram bila terdapat kemungkaran dalam undangan. Penuhilah undangan yang terlebih dahulu, kemudian hadirilah yang selainnya bila masih mempunyai waktu. Akan tetapi bila undangan itu harus di hadiri pada waktu bersamaan maka sampaikanlah kata maaf dengan lembut kepada saudara mulsim yang mengundang kita, semoga lain kali Allah SWT masih mengizinkan kita untuk menghadiri undangannya atau minimal bersilaturrahim ke rumahnya.

*Memberikan Tausiah/ nasehat bila saudara kita memintanya*

Mereka adalah kaum yang tidak merugi. Bukankah Allah sang pemilik segala kekuatan telah mengatakan dengan sumpahnya "*Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.* " (QS Al Ashr:1-3). Yup benar sekali saudaraku.....mereka yang saling memberi nasehat dan taushiah dalam kebenaran adalah kaum yang tidak akan merugi selamanya. Bukankah engkau telah memahaminya bahwa agama ini adalah nasehat. Bagi siapa? Kata para sahabat. Maka RasuluLLah yang mulia mengatakan dari celah-celah giginya yang suci "*Bagi Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin pada umumnya"* (HR Muslim).

Ali bin Abi Thalib pun juga mengatakan "*Orang-orang yang beriman saling menasehati, sedangkan orang-orang munafik adalah saling mencurangi".

Inilah yang membedakan seorang muslim dan munafik. Luruskan niat saat menaserhati saudara kita, sampaikan dengan keikhlasan karena Allah semata, lemah lembut dan menyampaikan secara rahasia.

Seorang penyair mengatakan " Liputilah aku dengan nasehatmu dalam kesendirian. Dan jauhkanlah kepadaku nasehat dalam keramaian. Sungguh nasehat di depan orang. Suatu bentuk pencelaan yang aku tidak suka mendengarnya. Bila engkau menyalahiku dan melanggar perintahku. Janganlah engkau gelisah jika tidak mendapati ketaatan."

*Bila ia bersin, maka berdo'alah untuknya*

Duhai, indah nian ajaran islam ini. Ia telah mengatur tentang hal-hal yang dianggap sepele oleh sebagian banyak orang. Saat saudara kita bersin kemudian ia memuji RabbNya yang agung "*AlhamdfuliLLah",* maka segera sambutlah dengan "*YarhamukaLLah"*, dan ia secepatnya akan menyambarnya dengan untain kalimah do'a yang mengharap *"YahdikumuLLah wa yuslihu baalakum"* (HR Bukhari,Abu Dawud, Tirmidzi dan Ahmad).

Do'a adalah harapan. Dan sungguh akan berbahagia bila saudara kita begitu mencintai kita hingga kita bersin pun ia juga mendo'akan. Jembatan cinta yang ke empat ini merupakan satu diantara enam jembatan yang begitu ringan kita mengucapkan tapi bukti kita peduli dan mecintai saudara kita.

Mendoakan saudara kita yng bersin adalah Fardhu "Ain hukumnya, merupakan kewajiban fardiyah/ individu bukan kewajiban kolektif/ kifayah.

*Bila dia sakit, maka jenguk dan do'akanlah*

Di antara yang lain dari jembatan cinta ini adalah mejenguk saudara muslim kita yang sedang sakit. Rasulullah mengatakan "* Barang siapa menjenguk saudaranya yang sakit maka dia senantiasa di dalam taman-taman surga, hingga dia kembali*" (HR Muslim).

RasuluLLah juga memberikan contoh yang konkret bagaimana beliau menjenguk sahabat-sahabatnya yang sedang sakit. Kepada Sa'ad bin Abi Waqqas RA, Jabir dan lain-lain. Bila menjenguk sahabta-sahabatnya yang sakit beliau duduk sebentar di dekat kepalanya lalau meletakkan tangan beliau pada dada yang sakit itu. Inilah bentuk kelembutan RasuluLLah. Lembut akhlak dan tingkah laku beliau kepada sesama saudaranya.

Saat engkau menjenguk saudaramu yang terbaring sakit, ikutilah pesan Rasul yang mulia. Berbicaralah lemah lembut terhadapnya dan jangan terlalu lama bersamanya karena itu akan membuat sakitnya semakin parah dan dia akan terganggu. Bawalah buah tangan secukupnya bila engkau mempunya kelebihan rezeki dan bacakanlah untuknya do'a "*As AlukaLLahal adziim, Robbal 'arsyil 'adzim aiyyasfiyaka*" (HR Bukhari dalam fathul Bari).

Seorang penyair mengatakan :
"Sang kekasih sakit, maka kujenguklah dia. Akupun sakit karena kekhawatiranku kepadanya. Dan ketika kekasih dating menjengukku. Akupun sembuh sebab memandangnya.

"Al-Syahrawi seorang qadhi oengikut madzhab Hanafi juga berkata:
"Demi Allah, aku tidak berkunjung kepadamu. Melainkan bumi terasa dekat bagiku. Tidaklah jauh wajahku dari pintumu. Melainkan aku datang kepadamu."

*Antarkan jenazah saudaramu jika ia meninggal dunia.*

Ini adalah satu adab seorang muslim dengan muslim lainnya. Hingga berpisahnya ruh seorang muslim untuk menemui Rabb-Nya pun seorang muslim masih mempunyai hak untuk menghulurkan tanda cintanya pada saudaranya yang telah meninggal tersebut dengan cara mengantarkannya hingga ke peristirahatan terakhir.

Ikatan cinta dalam bingkai ukhuwah antara seorang muslim tidak hanya terbatas pada kehidupan nyata di dunia saja, tapi juga hingga ke alam barzah dengan cara memandikan hingga mendoakan mereka untuk mendapatkan kebaikan dari Allah SWT. *RasuluLLah memberikan keutamaan berupa satu qirath apabila kita mengurus jenazah saudara kita hingga menyolatkan dan mendapatkan dua qirath apabila sampai memakamkanya.* (HR Bukhari, Muslim). Berapakah dua qirath itu, maka sang pecinta sejati RasuluLLah SAW yang telah membuktikan dengan cinta misinya mengatakan adalah "Seperti dua gunung yang besar".

Maka inilah enam jembatan cinta yang di bentangkan RasuluLLah SAW untuk kebaikan kehidupan ukhuwwah sesama muslim. Inilah enam kekuatan yang akan menopang dan mengantarkan kita pada bukti cinta sejati terhadap saudara kita. Tiada kebahagiaan yang kita raih dan rasakan kecuali kita mampu melihat saudara kita menyunggingkan senyum di bibirnya karena kita memikul sebagian beban hidupnya yang berat dengan amalan-amalan yang ringan ini. Merasakan jabatan erat malaikat dan mendapatkan salam dari Allah SWT karena cinta kita pada saudara muslim. Mempertautkan hati-hati kita dalam bingkai persaudaraan, merasakan keindahan berjuang di jalanNya, merasakan keindahan bertawakal kita pada Allah. Kita bermunajat kepada Allah, semoga Dia akan meneguhkan ikatan cinta ini dengan jembatan-jembatan yang telah dibentangkan oleh RasuluLLah kemudian Dia akan memenuhi hati kita dengan cahayaNya yang tak pernah redup dan malapangkan dada kita dengan limpahan iman dan keindahan islam serta kepasrahan kepadaNya sebagaimana do'a Rabithah yang telah di ajarkan oleh imam asSyahid Hasan Al Banna.

*Sub bagian dua*

Bagaimana seni mempertautkan hati.

Menahan amarah
Melenyapkan dendam dan perasaan benci di dada
Mengerahkan Harga diri-Izzah dan Harta di Jalan Allah SWT.
Mengemban kesalahan orang lain.
Menyelesaikan Perselisihan dan mengupayakan Perdamaian
Muhasabah dan Instropeksi diri.

Sekarang kita hanya bisa menyimpulkan bahwa Allah telah menyuruh kita sebagai hamba-hamba yang beiman untuk saling bersatu padu, mengatur barisan dan shaf-shaf yang rapi sebagaimana bangunan yang kokoh. Dia juga melarang kita untuk saling mengolok-olok, mencaci maki, jua bercerai berai. Marilah kita berpegang teguh pada tali Allah SWT, seraya senantiasa bersikap lemah lembut dan berkasih sayang terhadap sesame mu'min dan bersikap keras terhadap orang kafir yang memusuhi kita. Landasa kita adalah Aqidah dan Tauhid yang satu. Tiada Ilah yang berhak di sembah kecuali Dia yang Esa dan perkasa. Tiada Rasul yang patuhi kecuali junjungan mulia RasuluLLah Muhammad Saw. Tiada kitab yang kita agungkan dan ikuti isinya kecuali alqur'an. Dan tiada kiblat yang kita hadapkan wajah kita kapadanya 5 kali sehari kecuali Ka'bah BaituLLah. Ketika Allah SWt menciptakan perbedaan antara kita maka yakinlah itu adalah akan menjadi seperti sebuah Taman bunga, dengan beraneka macam warna bunga akan tetapi menambah semarak keindahan dan wewangian. Sesungguhnya perbedaan yang terjadi dianatar hamba-hamba yang saling mencintai, tidak seharusnya akan merusak tali kasih sayang dan tidak merubah apa yang ada dalam jiwa. Tapi justru akan menambah perasaan cinta dan mahabbah antara mereka. Kita kembalikan semua perselisihan kepada Allah dan RasulNya seraya memohon dan berharap Dia akan memberikan petunjukNya.

*Ya Rabbi, bersihkanlah hati-hati kami dengan air keyakinan, siramilah jiwa kami dari telaga islam dan sejukkanlah dada kami dengan ketenangan hamba-hambaMu yang beriman*.

Dari buku *Jusuur al Mahabbah-6 Power of Love DR Syaih 'Aid bin AbduLLah Al Qarni *

DUNIA RINDU PRIBADI SHOLEH

DUNIA RINDU PRIBADI SHOLEH

Kyai muda ini, sering nongol di TV. Penampilannya sejuk, bersih dan mengembangkan dzikrullah. Biasanya, jamaah dzikir yang dipimpinnya menangis tersedu-sedu, ingat dosa, takut tidak diampuni. Yang lebih esensial, dalam dzikrullah merasa bertemu Allah.

Siapa dia? KH Arifin Ilham. Obsesinya ingin menjadi pribadi dzikir, menjadikan Allah sebagai tujuan hidup, Dunia adalah sorga, bumi menjadi masjidnya, Bicaranya dakwah, diamnya dzikir, nafasnya tasbih, matanya rahmat (kasih sayang), telinganya terjaga, pikirannya baik sangka. Selanjutnya, cita-citanya menjadi syuhada', kesibukannya asyik memperbaiki diri, tidak tertarik mencari kekurangan apalagi aib diri orang lain, tidak tergoda hawa nafsu selama hidup, hatinya berdoa, tangannya sedekah, langkah kakinya jihad, kekuatannya silaturahmi, kerinduannya syafaat Allah Swt.

Diri ini kita giring menjadi pribadi unggul, atau pribadi paripurna. Sebab yang terjadi selama ini kita sering mempermainkan diri sendiri, Tujuan hidupnya tidak jelas, lisannya mengumpat dan mencaci, Pikirannya jelek pada orang lain, yang dicari kekurangan orang, lupa memperbaiki diri, Allah dikesampingkan, bacaan Qur'an asing di rumahnya, shalat berjamaah sejarang jari tangan saat direnggangkan, dan matanya penuh sindiran.

Pribadi negatif, hidupnya tidak tenang, Orang lain selalu curiga, Dia tidak bisa menebar kedamaian. Yang dikembangkan selalu konflik. Orang lain dianggap lawan, Jika ada persoalan dia senang. Terhadap orang yang mendapat rezeki merasa iri dan dia ingin agar nikmat di tangan orang lain pindah ke tangannya.

Tidak disadari, dia masuk neraka dunia, Yaitu, perasaan yang penuh rasa iri. Tidak rela kalau ada orang mendapat nikmat, la berupaya agar nikmat tadi jangan berlama-lama di tangan orang lain. Dicarinya cara agar nikmat tadi hilang atau pindah tangan. Setelah itu, dia masuk neraka kedua, yaitu hasut, la selain tidak senang kalau ada orang lain mendapat nikmat, di hatinya senang kalau ada orang terkena musibah.

Baru meningkat ke neraka lain bernama dengki dan dendam. Dia ingin menjatuhkan orang lain sampai kapanpun. la lupa orang lain tidak bersalah, yang salah adalah dirinya. Tetapi, atas pertimbangan dia ingin merebut kenikmatan maka kebencian ditebar, dan kalau juga belum kena maka dia pun dendam. Hati seperti inilah yang disebut hati membatu, keras, bahkan mati.

Kehidupan ini, membutuhkan orang berhati lembut, tidak kasar. Kalau ada masalah, selalu didiskusikan secara baik dan benar, Tak ada emosi, apalagi perasaan dongkol. Prinsip dialog dalam Islam dipakai secara mendalam kepada siapapun. Yaitu, mau mendengar suara hati lawan bicara, diikuti pikirannya sampai tuntas, baru disampaikan alternatif pemikiran yang tidak memaksa.

Pribadi sholeh dibutuhkan dunia. Sebab dari mereka tercipta kedamaian. Masyarakat tidak onar, Tetangga merasa tenang. Dan, kalau dia datang semua senang, jika pergi merasa kehilangan. Pribadi sholeh selalu menganggap orang lain penting, lebih penting dari dirinya. Tidak ada perasaan dirinya lebih hebat dari orang lain. Sebaliknya, merasa dirinya tidak punya makna tanpa hidup dengan orang lain, Orang lain yang menyebabkan hidupnya menjadi berarti.

Kalau bertemu selalu berhias senyum manis, Bukan senyum menghayutnya birahi, tetapi senyum kemanusiaan. Senyum kaya makna, senyum yang tidak basa-basi. Raut mukanya selalu ceria, karena luapan iman yang selalu bergelora di benaknya meluber ke luar memancar lewat pori kulit muka sehingga menjadikan cahaya di raut mukanya.

Dunia ini diciptakan bukan untuk dihuni oleh orang yang suka merusak, tukang hasut, penebar fitnah, apalagi adu domba dan pembunuh. Terlalu mahal nilai dunia jika diciptakan untuk mereka. Allah sama sekali tidak berkenan hambanya hidup dengan tampilan seperti itu. Tetapi karena sifat rahman dan rahimnya, Allah memberi toleransi kepada mereka. Tetapi jangan lupa Allah tidak pernah ingkar janji. Siapa yang melakukan dosa sekecil apapun akan mendapat ganjaran. Begitu juga bagi yang melakukan pahala sekecil apapun juga akan dibalasnya.

Dunia ini telah tercoreng oleh perilaku manusia yang sejak awal mengetahui kalau dirinya diciptakan Allah tetapi ternyata dia mengingkari dan mengkufurinya. Otaknya sudah keblinger. la tidak mau tahu sentuhan halus Tuhan pada dirinya. "Dalam dirimu banyak hal, apakah tidak kamu pikirkan?" kata Tuhan, Maksudnya, mbok ya pikir apa saja “fasilitas yang Allah ciptakan, Misalnya, sempurnanya rangkaian seperangkat alat tubuh yang begitu rapi, dan bekerja secara teratur. Otak kita, isi syarafnya tidak kurang dari 10 miliar. Syaraf ini mampu merekam 11 juta huruf setiap harinya. Memori selama hidup diperkirakan bisa menampung 12,5 juta triliun huruf. Bisa dibayangkan bagaimana kalau syaraf tersebut mengalami konslet satu satu. Yang terjadi adalah mengalami kerusakan. Bisa jadi kita akhirnya stroke, atau kehilangan pandangan, pendengaran, tidak bisa mengunyah, kehilangan rasa di lidah, dan sebagainya. Semua itu harus dijaga dengan baik, dan hendaknya hati-hati. Kita bisamembayangkan bagaimana Allah Yang Maha Kuasa mengatur segala hal yang pada diri kita. Dalam Buku Pintar Senior dituliskan, seorang berukuran normal melepaskan sekitar 600.000 partikel kulit setiap jamnya, bila dijumlah dalam setahun menjadi 700 gram. Pada usia 70 tahun ia kehilangan 50 kg kulit atau sekitar 2/3 berat tubuh, subhanallah.

Tanpa disadari orang kehilangan 45 helai rambutnya setiap hari, malah yang rontok sampai 60 helai per hari. Tetapi karena kulit kepala rata-rata mengandung 125.000 rambut, maka rambut rontok sejumlah tersebut tidak ada artinya, Maka dalam sepanjang usianya (jika usia 60 tahun) dia kehilangan 1,5 juta helai rambut, tetapi Allah juga menumbuhkan kembali. Allah akbar!

Belum puas melihat kekuasaan Allah? Lihat tenggorokan kita ini. Meski kalau dipegang terasa lembut, namun kerjanya sungguh luar biasa. Tenggorokan ibarat jalan, maka dia merupakan jalan yang paling sibuk dalam tubuh. Melalui mulut lalu turun ke tenggorokan sesorang selama hidup bisa menghabiskan 40 ton makanan dan menghirup sekitar 500.000 meter kubik udara. Dan masih banyak lagi kehebatan tangan Allah yang ada pada diri manusia.

Bisa dibayangkan, kalau saja Allah mudah marah melihat perilaku hambaNya dengan cara ngacak-ngacak peralatan tadi, maka akan terjadi kerusakan. Dan, pada akhirnya apa yang kita miliki dalam tubuh ini juga akan rusak sehingga pada akhirnya kita menjadi jasad yang tidak bermakna bagi orang lain. Apalagi kalau nafas telah berhembus abadi, maka kita akan 'dilempar' ke liang lahat, dan ditinggal sendiri di sana, Lalu apa?

Melihat tidak seriusnya kita dibalik fasilitas yang Allah pinjamkan kepada kita itu, maka tidak ada sikap lain yang layak dilakukan kecuali dengan merunduk serendah-rendahnya. Kita ini memang sangat dholim, Tidak seberapa bersyukur kepada Allah yang begitu kasih sayang kepada kita. Menunggu kapan kita akan mensyukuri nikmat Allah tadi? Apakah setelah nanti tulang belulang mulai berbunyi karena telah aus. Atau, tetap saja begini dengan mengandalkan pikiran picik kita yang menganggap bahwa siksa Allah itu enteng saja.

Di kalangan ulama sufi berkembang kalimat demikian, "Silahkan anda melakukan perbuatan dosa sepuas puasnya, Tetapi ingat, resiko ditanggung sendiri, Besok tidak ada pelimpahan dosa kepada orang lain," Maka yang benar adalah kita melakukan perbuatan baik sebanyak-banyaknya agar kelak menjadi orang yang bisa menikmati balasan yang jauh lebih baik dari apa yang kita kerjakan di dunia,

Ajakan berikut mungkin tidak menarik. Mari kita berebut sorga dengan memanfaatkan fasilitas dalam tubuh kita. Misalnya, merebut sorga dengan mulut ini. Caranya, memperbanyak dzikir kepada Allah, Allah suka melihat hamba-Nya lisannya selalu berdzikir, Ini salah satu dari iman yang menggelora di hatinya. Rebutlah sorga dengan kaki kita. Yaitu, dengan menggunakan kaki melangkah di jalan yang diridhoi Allah, Sebab ada kalanya hamba yang dijerumuskan ke neraka karena kakinya tidak dikendalikan, la melangkah ke jalan sesat dan penuh dosa. Gara‑gara kakinya, dia berlumuran dosa. Begitu juga dengan mata, telinga, dan alat lain dalam sekujur tubuh kita. Sorga bergantung bagaimana kita melakukan aktivitas di dunia. Kalau kita lengah, ceroboh apalagi menganggap enteng siksa akhirat, maka kita akan seenaknya melakukan sesuatu di dunia, Pertanyaannya sederhana, apakah kita sanggup menerima siksa Allah kelak sebagai balasan atas kelakuan kita di dunia?